Jumat, 13 Juni 2008

khutbah Pertama di Kampuz


Ma’asyirol muslimin
rahimakumullah

Pertama-tama marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt. Karena sesungguhnya yang paling berarti dihadapan Allah adalah rasa taqwa dan yang paling mulia dihadapan Allah adalah orang yang paling bertaqwa.

Jama’ah jum’at yang tenang lagi berbahagia

Sebagai seorang muslim, bila kita ingin mendapatkan kedudukan yang mulia disisi Allah hendaknya kita meneladani Rasulullah saw. Bila tidak meneladani beliau maka kita harus rela bila digolongkan kedalam golongan orang yang tidak memiliki ketulusan dalam mencintai Allah swt.

31. Katakanlah wahai Muhammad: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( Qs al Imran 31)

Mengikuti nabi saw terwujud dalam dua aspek: lahiriah dan batiniah. Aspek lahiriah yaitu berupa shalat, puasa, haji, Zakat serta berbagai ibadah lainnya. Sementara aspek batiniah yaitu kesungguhan dan kekhusyuan yang ada dalam hati ketika kita melakukan ibadah-ibadah lahiriah.

Ibadah-ibadah lahiriah tidak akan mencapai kesempurnaan bila tidak diiringi dengan kebersihan hati dan jiwa. Orang-orang yang melakukan shalat tapi masih saja mencaci-maki orang lain maka sesungguhnya orang-orang itu belum bisa memaknai hakikat shalatnya. Nabi saw bersabda: Tahukah engkau orang yang rugi? Para sahabat menjawab, “orang yang rugi adalah yang tak punya uang dan harta.” Nabi saw menyanggah, “orang yang rugi adalah orang yang pada hari akhir datang dengan membawa shalat, puasa, dan zakat tapi ia pernah mencaci, merusak kehormatan, memakan harta yang bukan haknya, menumpahkan darah, serta memukul orang. Sehingga sebagai gantinya, amal kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang pernah di aniaya. Apabila amal kebaikannya telah habis sebelum beban kewajibannya terbayar, dosa-dosa orang yang pernah di aniaya kan diambil dan diberikan kepadanya sehingga ia dimasukkan ke tempat orang-orang yang merugi ( HR. Muslim dan Tirmidzi)

Jama’ah jum’at yang berbahagia

Ibadah juga harus diiringi dengan rasa rendah diri dihadapan Allah. Bila tidak di iringi dengan rasa rendah diri dihadapan Allah maka kita harus rela bila dimasukkan kedalam golongan orang-orang yang sombong lagi berbangga diri.
Banyak orang-orang yang meneriakkan takbir tapi sebenarnya tidak ada pengagungan Allah dalam takbirnya. Dalam takbirnya hanya ada pengagungan diri dan kelompoknya. Banyak orang-orang yang meneriakkan alhamdulillah tapi sebenarnya bukanlah Allah yang ada dalam pujiannya melainkan diri sendiri yang ada dalam hamdalahnya. Hal ini terjadi karena yang ada dalam ibadahnya hanyalah kepentingan lahiriah saja tanpa mempedulikan batiniahnya. Allah berfirman:


205. Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (al-a'raaf 205)

Dalam satu riwayat: pernah dalam sebuah perjalanan nabi saw mendengar sekelompok muslim yang tengah berdoa dengan suara keras atau lantang. Ketika itu juga nabi saw bersabda “bersikaplah sopan, kalian tidak sedang menyeru orang yang tuli atau tiada. Sesungguhnya yang kalian seru ada di dekat kalian dan sesungguhnya Dia maha mendengar. Dia bahkan lebih dekat dari urat leher kalian”. (HR Muslim)

Bila kita berandai-andai nabi masih hidup pada masa ini, maka beliau akan banyak berhenti dalam perjalanannya karena harus menasehati banyaknya orang yang berteriak-teriak keras Allahu Akbar.

Jama’ah jum’at yang di rahmati Allah
Hakikat keimanan seseorang tidaklah hanya ditentukan dari mulut dan goyangan lidah serta gerakan lahiriah saja melainkan ditentukan oleh hati dan jiwanya.

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah bertanya wahai Rasulullah saw! Siapakah orang yang paling dulu mendapatkan syafaatmu pada hari kebangkitan? Rasulullah menjawab, “wahai Abu Hurairah! Aku tahu, kau menanyakan sesuatu yang tak ada seorang pun menanyakannya sebelummu karena kerinduanmu pada pengetahuan. Orang yang paling dahulu mendapatkan syafaatku pada hari kebangkitan adalah orang yang mengatakan, ‘tidak ada Tuhan selain Allah’ secara tulus dan ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (HR Bukhari).

Diriwayatkan pula

Seorang sahabat yang bernama Wabisa menceritakan bahwa kebanyakan orang biasanya bertanya kepada nabi saw. Tentang hal-hal yang baik, tetapi ia menanyakan hal-hal yang buruk. Tatkala ia datang menemui nabi saw, nabi mengetuk dadanya dengan jari-jarinya dan mengulangi sabdanya tiga kali, “hai Wabisa takut kepada Allah itu disini (maksudnya adalah hati). Kemudian beliau menyambung sabdanya, “tanyalah keputusan hatimu, tak peduli keputusan ini dan itu yang diberikan kepadamu. (diriwayatkan dari imam Ahmad, Tabrani, Abu Ya’la dan Abu Nuaim).

WASSALAM;

Selasa, 20 Mei 2008

kuli dan kiai


sekarang ini orang terlalu mudah untuk mengatakan seseorang sebagai kiai. banyak orang yang bila melihat seseorang yang berpakaian layaknya orang-orang timur tengah yang seringkali menggunakan surban dikepala, surban panjang yang bergelantung di leher, memakai gamis serta berjenggot panjang yang katanya sunnah rasul langsung menganugerahkan kepada orang itu gelar kiai. orang yang hanya bisa menghapalkan teks lalu berpidato langsung saja dipanggil kiai. orang yang berteriak AllahuAkbar yang padahal banyak orang yang merasa telinganya sakit karena teriakannya dianggap sebagai Ulama besar yang kata mereka ini baru ulama pasti berkah dan keramat. kita seringkali tidak bisa membedakan yang mana ulama yang mana preman, yang mana kiai yang mana kuli.

dalam hal ini ada satu cerita walau hanya sebuah lelucon dari seorang pemikir besar yaitu Gus Dur yang patut kita ambil pelajaran.

Rombongan jamaah haji NU dari Tegal tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah Arab Saudi. Langsung saja kuli-kuli dari Yaman berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa. Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan serius dalam bahasa Arab.Melihat itu, rombongan jamaah haji tersebut spontan merubung mereka, sambil berucap: Amin, Amin, Amin!Gus Dur yang sedang berada di bandara itu menghampiri mereka:"Lho kenapa Anda berkerumun di sini?jamaah haji menjawab""Mereka terlihat sangat fasih berdo'a, apalagi pakai serban, mereka itu pasti kiai."

Rabu, 09 April 2008

laskar cinta (Dewa19)

wahai jiwa-jiwa yang tenang
berhati-hatilah dirimu
pada hati-hati yang penuh dengan kebencian yang dalam

karena sesungguhnya iblis
ada dan bersemayam dihati yang penuh dengan benci
di hati yang penuh dengan prasangka

laskar cinta sebarkanlah benih-benih cinta
musnahkanlah virus-virus benci
virus yang bisa rusakkan jiwa dan busukkan hati
laskar cinta ajarkanlah ilmu tentang cinta
karena cinta adalah hakikat dan jalan yang terang bagi semua umat manusia

jika kebencian meracunimu
kepada umat yang lainnya
maka sesungguhnya iblis
sudah berkuasa atas dirimu

maka jangan pernah berharap
aku akan mengasihi,
menyayangi manusia-manusia
yang penuh benci seperti kamu

wahai jiwa-jiwa yang tenang jangan sekali-kali kamu
mencoba jadi Tuhan dengan mengadili dan menghakimi
bahwasanya kamu memang tak punya daya dan upaya
serta kekuatan untuk menentukan kebenaran sejati

bukankah kita memang tercipta laki-laki dan wanita
dan menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa yang pasti berbeda
bukankah kita memang harus saling mengenal dan menghormati
bukan untuk saling bercerai berai dan berperang angkat senjata

gosip jalanan (slank)

Pernah kah lo denger mafia judi Katanya banyak uang suap polisi Tentara jadi pengawal pribadi

Apa lo tau mafia narkoba Keluar masuk jadi bandar di penjara Terhukum mati tapi bisa ditunda

Siapa yang tau mafia selangkangan, Tempatnya lendir-lendir berceceranUang jutaan bisa dapat perawan, Kacau balau ... Kacau balau negaraku ini ...

Ada yang tau mafia peradilanTangan kanan hukum di kiri pidana Dikasih uang habis perkara

Apa bener ada mafia pemilu Entah gaptek apa manipulasi dataUjungnya beli suara rakyat

Mau tau gak mafia di SenayanKerjanya tukang buat peraturanBikin UUD ujung-ujungnya duit

Pernah gak denger teriakan Allahu Akbar Pake peci tapi kelakuan barbar Ngerusakin bar orang ditampar-tampar.

Senin, 10 Maret 2008

Dialah Yang Ada

jika aku berjalan maka jalanku adalah jalan-Nya
jika aku berkata maka perkataanku adalah perkataan-Nya
jika aku tertawa maka tertawaku adalah tertawa-Nya
jika aku menangis maka tangisku adalah tangis-Nya
jika aku berteriak maka teriakanku adalah teriakannya
jika aku mendengar maka pendengaranku adalah pendengaran-Nya
jika aku melihat maka penglihatanku adalah penglihatan-Nya
jika aku bernafas maka nafasku adalah nafas-Nya


izinkan aku mengatakan
aku tak ada
kamu tak ada
kita tak ada

Dialah yang sesungguhnya ada

biarlah Tuhan yang bicara

aku berjalan orang lain berkata
aku diam orang lain berkata
aku berbicara orang lain berkata
aku bergerak orang lain berkata

birkanlah orang lain berkata-kata
biarkanlah orang itu berbicara semaunya dan sekehendaknya sampai puas hatinya

aku serahkan kepada-Nya
biarlah Dia yang bicara

Semua Dia

dalam pandanganku hanya terlihat Dia

dalam pendengaranku hanya terdengar suara Dia

dalam perasaanku hanya terasa getaran Dia

dalam pikiranku hanya terlintas Dia

dalam otakku hanya Dia

hingga aku berkata
aku tidak ada
yang ada hanyalah Dia