
Ma’asyirol muslimin
rahimakumullah
Pertama-tama marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt. Karena sesungguhnya yang paling berarti dihadapan Allah adalah rasa taqwa dan yang paling mulia dihadapan Allah adalah orang yang paling bertaqwa.
Jama’ah jum’at yang tenang lagi berbahagia
Sebagai seorang muslim, bila kita ingin mendapatkan kedudukan yang mulia disisi Allah hendaknya kita meneladani Rasulullah saw. Bila tidak meneladani beliau maka kita harus rela bila digolongkan kedalam golongan orang yang tidak memiliki ketulusan dalam mencintai Allah swt.
31. Katakanlah wahai Muhammad: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( Qs al Imran 31)
Mengikuti nabi saw terwujud dalam dua aspek: lahiriah dan batiniah. Aspek lahiriah yaitu berupa shalat, puasa, haji, Zakat serta berbagai ibadah lainnya. Sementara aspek batiniah yaitu kesungguhan dan kekhusyuan yang ada dalam hati ketika kita melakukan ibadah-ibadah lahiriah.
Ibadah-ibadah lahiriah tidak akan mencapai kesempurnaan bila tidak diiringi dengan kebersihan hati dan jiwa. Orang-orang yang melakukan shalat tapi masih saja mencaci-maki orang lain maka sesungguhnya orang-orang itu belum bisa memaknai hakikat shalatnya. Nabi saw bersabda: Tahukah engkau orang yang rugi? Para sahabat menjawab, “orang yang rugi adalah yang tak punya uang dan harta.” Nabi saw menyanggah, “orang yang rugi adalah orang yang pada hari akhir datang dengan membawa shalat, puasa, dan zakat tapi ia pernah mencaci, merusak kehormatan, memakan harta yang bukan haknya, menumpahkan darah, serta memukul orang. Sehingga sebagai gantinya, amal kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang pernah di aniaya. Apabila amal kebaikannya telah habis sebelum beban kewajibannya terbayar, dosa-dosa orang yang pernah di aniaya kan diambil dan diberikan kepadanya sehingga ia dimasukkan ke tempat orang-orang yang merugi ( HR. Muslim dan Tirmidzi)
Jama’ah jum’at yang berbahagia
Ibadah juga harus diiringi dengan rasa rendah diri dihadapan Allah. Bila tidak di iringi dengan rasa rendah diri dihadapan Allah maka kita harus rela bila dimasukkan kedalam golongan orang-orang yang sombong lagi berbangga diri.
Banyak orang-orang yang meneriakkan takbir tapi sebenarnya tidak ada pengagungan Allah dalam takbirnya. Dalam takbirnya hanya ada pengagungan diri dan kelompoknya. Banyak orang-orang yang meneriakkan alhamdulillah tapi sebenarnya bukanlah Allah yang ada dalam pujiannya melainkan diri sendiri yang ada dalam hamdalahnya. Hal ini terjadi karena yang ada dalam ibadahnya hanyalah kepentingan lahiriah saja tanpa mempedulikan batiniahnya. Allah berfirman:
205. Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (al-a'raaf 205)
Dalam satu riwayat: pernah dalam sebuah perjalanan nabi saw mendengar sekelompok muslim yang tengah berdoa dengan suara keras atau lantang. Ketika itu juga nabi saw bersabda “bersikaplah sopan, kalian tidak sedang menyeru orang yang tuli atau tiada. Sesungguhnya yang kalian seru ada di dekat kalian dan sesungguhnya Dia maha mendengar. Dia bahkan lebih dekat dari urat leher kalian”. (HR Muslim)
Bila kita berandai-andai nabi masih hidup pada masa ini, maka beliau akan banyak berhenti dalam perjalanannya karena harus menasehati banyaknya orang yang berteriak-teriak keras Allahu Akbar.
Jama’ah jum’at yang di rahmati Allah
Hakikat keimanan seseorang tidaklah hanya ditentukan dari mulut dan goyangan lidah serta gerakan lahiriah saja melainkan ditentukan oleh hati dan jiwanya.
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah bertanya wahai Rasulullah saw! Siapakah orang yang paling dulu mendapatkan syafaatmu pada hari kebangkitan? Rasulullah menjawab, “wahai Abu Hurairah! Aku tahu, kau menanyakan sesuatu yang tak ada seorang pun menanyakannya sebelummu karena kerinduanmu pada pengetahuan. Orang yang paling dahulu mendapatkan syafaatku pada hari kebangkitan adalah orang yang mengatakan, ‘tidak ada Tuhan selain Allah’ secara tulus dan ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (HR Bukhari).
Diriwayatkan pula
Seorang sahabat yang bernama Wabisa menceritakan bahwa kebanyakan orang biasanya bertanya kepada nabi saw. Tentang hal-hal yang baik, tetapi ia menanyakan hal-hal yang buruk. Tatkala ia datang menemui nabi saw, nabi mengetuk dadanya dengan jari-jarinya dan mengulangi sabdanya tiga kali, “hai Wabisa takut kepada Allah itu disini (maksudnya adalah hati). Kemudian beliau menyambung sabdanya, “tanyalah keputusan hatimu, tak peduli keputusan ini dan itu yang diberikan kepadamu. (diriwayatkan dari imam Ahmad, Tabrani, Abu Ya’la dan Abu Nuaim).
WASSALAM;
Pertama-tama marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt. Karena sesungguhnya yang paling berarti dihadapan Allah adalah rasa taqwa dan yang paling mulia dihadapan Allah adalah orang yang paling bertaqwa.
Jama’ah jum’at yang tenang lagi berbahagia
Sebagai seorang muslim, bila kita ingin mendapatkan kedudukan yang mulia disisi Allah hendaknya kita meneladani Rasulullah saw. Bila tidak meneladani beliau maka kita harus rela bila digolongkan kedalam golongan orang yang tidak memiliki ketulusan dalam mencintai Allah swt.
31. Katakanlah wahai Muhammad: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( Qs al Imran 31)
Mengikuti nabi saw terwujud dalam dua aspek: lahiriah dan batiniah. Aspek lahiriah yaitu berupa shalat, puasa, haji, Zakat serta berbagai ibadah lainnya. Sementara aspek batiniah yaitu kesungguhan dan kekhusyuan yang ada dalam hati ketika kita melakukan ibadah-ibadah lahiriah.
Ibadah-ibadah lahiriah tidak akan mencapai kesempurnaan bila tidak diiringi dengan kebersihan hati dan jiwa. Orang-orang yang melakukan shalat tapi masih saja mencaci-maki orang lain maka sesungguhnya orang-orang itu belum bisa memaknai hakikat shalatnya. Nabi saw bersabda: Tahukah engkau orang yang rugi? Para sahabat menjawab, “orang yang rugi adalah yang tak punya uang dan harta.” Nabi saw menyanggah, “orang yang rugi adalah orang yang pada hari akhir datang dengan membawa shalat, puasa, dan zakat tapi ia pernah mencaci, merusak kehormatan, memakan harta yang bukan haknya, menumpahkan darah, serta memukul orang. Sehingga sebagai gantinya, amal kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang pernah di aniaya. Apabila amal kebaikannya telah habis sebelum beban kewajibannya terbayar, dosa-dosa orang yang pernah di aniaya kan diambil dan diberikan kepadanya sehingga ia dimasukkan ke tempat orang-orang yang merugi ( HR. Muslim dan Tirmidzi)
Jama’ah jum’at yang berbahagia
Ibadah juga harus diiringi dengan rasa rendah diri dihadapan Allah. Bila tidak di iringi dengan rasa rendah diri dihadapan Allah maka kita harus rela bila dimasukkan kedalam golongan orang-orang yang sombong lagi berbangga diri.
Banyak orang-orang yang meneriakkan takbir tapi sebenarnya tidak ada pengagungan Allah dalam takbirnya. Dalam takbirnya hanya ada pengagungan diri dan kelompoknya. Banyak orang-orang yang meneriakkan alhamdulillah tapi sebenarnya bukanlah Allah yang ada dalam pujiannya melainkan diri sendiri yang ada dalam hamdalahnya. Hal ini terjadi karena yang ada dalam ibadahnya hanyalah kepentingan lahiriah saja tanpa mempedulikan batiniahnya. Allah berfirman:
205. Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (al-a'raaf 205)
Dalam satu riwayat: pernah dalam sebuah perjalanan nabi saw mendengar sekelompok muslim yang tengah berdoa dengan suara keras atau lantang. Ketika itu juga nabi saw bersabda “bersikaplah sopan, kalian tidak sedang menyeru orang yang tuli atau tiada. Sesungguhnya yang kalian seru ada di dekat kalian dan sesungguhnya Dia maha mendengar. Dia bahkan lebih dekat dari urat leher kalian”. (HR Muslim)
Bila kita berandai-andai nabi masih hidup pada masa ini, maka beliau akan banyak berhenti dalam perjalanannya karena harus menasehati banyaknya orang yang berteriak-teriak keras Allahu Akbar.
Jama’ah jum’at yang di rahmati Allah
Hakikat keimanan seseorang tidaklah hanya ditentukan dari mulut dan goyangan lidah serta gerakan lahiriah saja melainkan ditentukan oleh hati dan jiwanya.
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah bertanya wahai Rasulullah saw! Siapakah orang yang paling dulu mendapatkan syafaatmu pada hari kebangkitan? Rasulullah menjawab, “wahai Abu Hurairah! Aku tahu, kau menanyakan sesuatu yang tak ada seorang pun menanyakannya sebelummu karena kerinduanmu pada pengetahuan. Orang yang paling dahulu mendapatkan syafaatku pada hari kebangkitan adalah orang yang mengatakan, ‘tidak ada Tuhan selain Allah’ secara tulus dan ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (HR Bukhari).
Diriwayatkan pula
Seorang sahabat yang bernama Wabisa menceritakan bahwa kebanyakan orang biasanya bertanya kepada nabi saw. Tentang hal-hal yang baik, tetapi ia menanyakan hal-hal yang buruk. Tatkala ia datang menemui nabi saw, nabi mengetuk dadanya dengan jari-jarinya dan mengulangi sabdanya tiga kali, “hai Wabisa takut kepada Allah itu disini (maksudnya adalah hati). Kemudian beliau menyambung sabdanya, “tanyalah keputusan hatimu, tak peduli keputusan ini dan itu yang diberikan kepadamu. (diriwayatkan dari imam Ahmad, Tabrani, Abu Ya’la dan Abu Nuaim).
WASSALAM;
2 komentar:
terima kasih sharing info/ilmunya...
saya membuat tulisan tentang "Bagaimana Menjadi Khatib Efektif?"
silakan berkunjung ke:
http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/bagaimana-menjadi-khatib-efektif-1-of-2.html
salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/
terima kasih sharing info/ilmunya...
saya membuat tulisan tentang tidur ketika khutbah Jum'at...
silakan berkunjung ke:
http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/hidup-ini-memang-penuh-kelucuan.html
salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/
Poskan Komentar